Menulis tinjauan
Rata-rata Tinjauan Pemakai
Tidak ada ulasan untuk perusahaan ini
Penjelasan Ringkas
We would like to introduce my selves as lead of Kopadismaya Makmur, a cooperative of fertilizer distribution at Meulaboh West (Aceh Barat) especially for Gramalet flexible formula fertilizer trader.
Gramalet Formula Flexible Fertilizer
Gramalet fertilizer as a Complex NPK fertilizers have the advantage of having each nutrient in each tablets. They are more expensive than the equivalent quantity of nutrients achieved by applying the equivalent quantities of straight fertilizers, but the product quality is guaranteed. Sulphur and/ or other nutrients can easily be incorporated if required. By using the appropriate complex fertilizer, farmers are applying at least an approximation of each nutrient required. Absolute precision is not necessary in view of soil variability even within the same field.
Gramalet Complex fertilizers are, therefore, efficient products but trends during the past thirty years in the types of fertilizers used have been determined by their economics, not by considerations of agricultural efficiency or sustainability. General specification of Gramalet Formula Flexible Fertilizer :
1. Primary Nutrients NPK
Each tablet contain NPK such as Nitrogen, Phosphorus and Potassium ( kalium).
2. Secondary Nutrients Contain
Calcium, sulphur and magnesium also are required in large quantities by plants. They are often called 'secondary nutrients'.
2.1. Calcium
Most soils contain sufficient calcium. Calcium is applied incidentally in liming materials used to correct soil acidity. In the event of a deficiency, calcium may be applied as calcium chloride or as a component of foliar sprays.
2.2. Sulphur
Sulphur deficiencies occur with increasing frequency, due to the increasing share of fertilizer such as urea, ammonium phosphate and potassium chloride, that do not contain sulphur, and to obligatory reductions in emissions of sulphur dioxide from the burning of fossil fuels. The content of sulphur applied annually in various fertilizer products, such as single superphosphate, ammonium sulphate, potassium sulphate and incorporated in NPK compound fertilizers is estimated at ten million tonnes S.
2.3. Magnesium
Crops' requirements of magnesium are substantial. Deficiencies are fairly common especially on light, sandy soils. Soil magnesium can be maintained through the application of liming materials such as dolomitic limestone, kieserite (magnesium sulphate) or other fertilizers containing magnesium.
3. Micronutrients
Although needed in very small amounts (g/ ha) compared with macronutrients (kg/ ha), if there is a deficiency crop yield and quality may be affected in the same way. Micronutrients whose content in plants is critical are the metallic elements iron, manganese, zinc, copper and molybdenum and the non-metallic elements chlorine and boron. In addition certain other nutrients may be beneficial for certain plants, such as sodium, silicon, cobalt, chlorine and aluminium.
Micronutrients are often applied incorporated in NPK fertilizers. They may also by applied in solution, directly or sprayed on bulk blends. Where quick action is required, salts of micronutrients dissolved in water are sprayed onto crop foliage. But, Gramalet Formula flexible fertilizer give solutions with mixing micronutrient per each tablet.
4. Slow Release Fertilizers
As a Slow release fertilizers, Gramalet formula flexible fertilizer can be a more efficient source of nutrients than conventional fertilizers but, because of their higher cost, they are not normally applied to field crops. Japan, for example, is one of the few countries where the use slow-release fertilizers is developing on field crops, especially paddy rice. They are used on higher value crops such as vegetables and ornamentals.
Best Regards,
Sonson Garsoni, Ir
+62-81572527115
Koperasi Kopadismaya adalah badan usaha Koperasi - yang bertindak menjadi penyalur dan agen komposter pengolah sampah organik menjadi kompos serta pupuk majemuk di Aceh Barat Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Aceh pada umumnya. Kopadismaya berpengalaman melayani petani sawit, padi gogo dan padi sawah serta petani penghasil buah-buahan.
Memiliki pengalaman menarik ketika petani Jeruk di Meulaboh menanyakan khasiat pupuk gramalet- yang sebelumnya sudah digunakan pada tanaman jeruknya - dibanding penggunaan pupuk konvensional - ternyata rasa jeruk dengan pupuk gramalet lebih manis dan segar.
Kini pupuk gramalet sudah dikenal baik di NAD-khususnya di Aceh Barat, bukan saja memberikan peningkatan produktivitas melainkan menjamin perolehan mutu hasil dan pelestarian lahan dari pencemaran lingkungan.
Gramalet sebagai pupuk majemuk yang diformulasi secara fleksibel berdasar kondisi kesuburan lahan pelanggan di dalam negeri sangat memahami kebutuhan tanaman dan pertanian di Indonesia. Kondisi kesuburan lahan di Indonesia pada umumnya terdapat kondisi kahat unsur mikro namun mengandung phosphor yang tidak efektif diserap tanaman karena terikat oleh unsur kimia lainnya dalam tanah menjadi koloid atau khelat.
Berdasar pemahaman tersebut, Gramalet® memformulasi pupuk didasarkan pada kondisi spesifik lahan pertanian yang akan dipupuk. Petani-pekebun dapat dibantu dengan uji kesuburan lahannya kemudian disajikan komposisi kandungan unsure hara yang sesuai dengan keadaan spesifik lahan tersebut. Bagi perkebunan besar maupun proyek agribisnis, data kondisi kesuburan lahan pada umumnya telah tersedia dengan baik. Bagi perkebunan, Gramalet® melayani penyediaan pupuk sejak dari penyiapan pupuk dengan komposisi yang telah disesuaikan dengan kondisi spesifik, supervisi aplikasi pemupukan, serta pekerjaan pemupukan pada umumnya sehingga Gramalet® akan bertindak sebagai kontraktor pemupukan tanaman perkebunan anda.
Beberapa pedoman pekebun dan perkebunan dalam menentukan formula pesanan kepada Gramalet® adalah dengan melihat gejala yang ditimbulkan dari adanya kekurangan (kahat) unsur hara sebagai berikut :
Kekurangan nitrogen (N):
Nitirogen merupakan unsur mobile didalam tanaman, oleh karena itu gejala kekurangannya akan dimulai pada daun-daun yang lebih tua. Gejalanya berupa menguningnya daun. Kadang-kadang disertai dengan berubahnya warna daun menjadi kemerahan sebagai akibat terbentuknya "anthocyanin".
Kekurangan fosfor (P):
Kekurangan fosfor akan memicu rontoknya daun. Sebelumnya daun menunjukkan gejala muculnya warna kemerahan atau keunguan sebagai akibat pembentukan anthocyanin.
Kekurangan kalium (K):
Ditandai dengan munculnya bercak-bercak kuning pada daun, diikuti dengan mati/ "mengeringnya" ujung dan pinggiran daun. Kejadian ini dimulai dari bagian tanaman yang lebih tua.
Kekurangan kalsium (Ca):
Kekurangan kalsium menyebabkan terjadinya kerusakan sel-sel apikal pada tunas dan daun. Hal ini menyebabkan tunas dan daun mati. Keadaan ini sering diawali dengan matinya ("mengeringnya") pinggiran daun muda.
Kekurangan magnesium (Mg):
Ditunjukkan oleh muculnya bercak-bercak berwarna kuning pada daun. Dimulai pada daun-daun yang lebih tua kemudian diikuti pada daun-daun lebih muda.
Kekurangan besi (Fe):
Kekurangan besi ditunjukkan oleh menguningnya daun yang dimulai dari ujung daun. Daun menjadi sangat mudah patah dan transparan sebelum terlepas. Hygrophylla sp, dan tanaman air lain dengan pertumbuhan cepat, pada kondisi kekuerangan Fe, akan menunjukkan gejala ini terlebih dahulu dibandingkan tanaman lain.
Kekurangan mangan (Mn):
Kekurangan mangan ditandai dengan menguningnya bagian daun diantara tulang-tulang daun. Sedangkan tulang daun itu sendiir tetap berwarna hijau. Bagian yang menguning tersebut akan mati dan meninggalkan lubang-lubang berbentuk memanjang.
Kekurangan Mn sering terjadi sebagai akibat pemupukan Fe berlebihan sehingga menyebabkan Mn menjadi tidak tersedia.
Kekurangan belerang (S):
Kekurangan belerang ditandai dengan menguningnya daun. Diawali dengan daun-daun muda terlebih dahulu. Kada-kadang disertai juga dengan memerahnya daun.
Kekurangan tembaga (Cu)
Ujung daun mati dan pinggirannya layu. (Kelebihan Cu dapat membunuh berbagai tanaman, seperti Vallisneria, Ludwigia, Sagitaria, dll )
Kekurangan seng (Zn)
Menguningnya bagian daun diantara tulang-tulang daun, pada pinggiran dan pada ujung daun tua.
Kekurangan boron (B)
Titik tumbuh mati. Tanaman selanjutnya akan membentuk tunas samping, yang kemudian akan mati pula dengan cepat.
Kekurangan molibdenum (Mo)
Bintik-bintik kuning diantara tulang daur pada daun lebih tua terlebih dahulu. Diikuiti dengan terbentuknya warna coklat pada pinggiran daun.
Kekurangan karbondioksida (CO2)
Daun tumbuh kecil-kecil, pertumbuhan lambat, dan munculnya deposit kasar keputihan pada permukaan daun sebagai akibat proses dekalsifikasi biogenik.
Menyadari bahwa di masa depan, pupuk kimia (an-organik) - sebagai bahan alam tidak terbarukan (unrenewable) akan makin berkurang ketersediaannya, serta, dilain pihak, terdapat kesadaran kesehatan akan pentingnya pangan alami (organik)- sejak 2004, CVSK mengembangkan teknologi pupuk sumber hayati dan pupuk organik granul (POG), ukuran bentuk organik granul (2- 4 mm), berikut pembuatan alat pengolahan sampah menjadi pupuk organik kompos ( komposter manual, komposter elektrik, mesin granulator pupuk dan Rotary Kiln berbagai kapasitas). Dalam katagori material pupuk organik (kompos), CVSK telah berhasil merekayasa dan mengisolasi mikroba pengurai sampah (probiotik) dan aneka mineral bagi berlangsungnya pengomposan modern, higienis dan cepat. Mikroba pengurai ini adalah aktivator kompos dan mineral adalah bahan penggembur (bulking agent. Kedua artikel ini berguna mempercepat berlangsungnya dekomposisi. Guna meningkatkan pembuatan kompos oleh para petani secara efektif dan efisien, dikembangkan pula alat mesin (komposter) baik skala rumah tangga, skala lingkungan dan komposter ( Rotary Kiln) skala bisnis komersial. Komposter ini sangat bermanfaat bagi pehobies taman dan pengelola pertamanan dalam membuat kompos dengan memanfaatkan bahan baku berasal dari sampah rumah tangga atau, bagi pengusaha mendapatkan bisnis - yang cepat menghasilkan dari mengelola sampah di perumahan, pabrik, pasar atau lingkungan apartemen.
Bahkan, bagi kota-kota yang mengalami masalah dengan TPA dan penanganan sampah seperti Bandung, Jakarta, Bogor serta kota metropolitan lainnya- komposter akan sangat membantu mengurangi sampah secara tuntas sejak sumber atau lokasi penghasil sampah ( keluarga atau rumah tangga, restoran, mall, pasar, kantin pabrik, pasar sayur dan hotel). Bagi skala besar, juga tersedia alat mesin Rotary Klin dengan kemampuan mengolah sampah 1 m3 (1/ 3 Ton) sampai 6 m3 ( 2 Ton)/ unit mesin.
Demikian sekilas profil usaha kami, dengan harapan di masa depan akan makin terbentuk kemitraan antara petani dengan kami sehingga saling menguntungkan secara jangka panjang.
Hormat kami,
Sonson Garsoni, Ir
+62-81572527115
| kopadismaya @kencanaonline .com |